Panen di Brasil Terhambat Hujan, Harga Kopi Arabika Melonjak

Biji kopi Arabika sedang di roasting. (Foto: Bloomberg)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:04:26 WIB

JAKARTA — Nilai jual kopi arabika kembali melonjak setelah curah hujan yang tinggi mengganggu jalannya aktivitas panen di Brasil, negara produsen kopi terbesar di dunia. 

Permasalahan tersebut menimbulkan kecemasan terkait ketersediaan stok dalam jangka pendek, walaupun proyeksi output global masih memperlihatkan peluang surplus yang dapat meredam lonjakan harga lebih lanjut.

Merujuk pada data Barchart, apresiasi harga ini diakibatkan oleh sentimen cuela cuaca berupa curah hujan yang berada jauh di atas ambang normal di Minas Gerais, daerah sentra produksi kopi terbesar di Brasil. 

Laporan Somar Meteorologia mengindikasikan tingkat curah hujan selama sepekan yang berakhir pada 28 Juni menyentuh 31,3 milimeter atau berkisar 1.956% di atas rata-rata historisnya. 

Tingginya intensitas hujan tersebut menyulitkan proses pemetikan sekaligus berisiko menurunkan mutu biji kopi, sehingga mengatrol harga arabika di pasar internasional.

Di lain pihak, harga kopi robusta justru terkoreksi turun sejalan dengan kondisi pasokan yang kian membaik. Volume persediaan robusta di tempat penyimpanan Intercontinental Exchange (ICE) merangkak naik ke titik tertinggi dalam kurun waktu sekitar 2,75 bulan, yang pada gilirannya mengendurkan kecemasan pelaku pasar atas ketersediaan komoditas tersebut.

Dalam periode dua minggu ke belakang, harga kopi dunia sempat mengalami lonjakan yang amat signifikan. 

Arabika berhasil menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan, sementara robusta bertengger di posisi tertinggi dalam sekitar empat setengah bulan sebelum akhirnya mengalami penurunan kembali.

Kenaikan harga arabika juga disokong oleh terus menyusutnya cadangan di gudang ICE. Sampai dengan awal pekan ini, volume stok arabika merosot hingga menjadi kisaran 380.534 karung, yang merupakan level paling rendah dalam jangka waktu lebih dari dua tahun.

Para pelaku pasar kini pun mulai memperhitungkan potensi imbas dari fenomena El Niño terhadap periode tanam berikutnya di Brasil. 

Kondisi alam ini ditakutkan bakal menangguhkan tibanya musim hujan pada September sampai Oktober, yang merupakan fase krusial bagi pembungaan pohon kopi demi menentukan hasil produksi pada musim 2026/2027.

Kecemasan itu mencuat usai Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memprediksi bahwa peluang munculnya El Niño berkekuatan besar pada tahun ini semakin membesar. 

Di waktu yang sama, Badan Meteorologi Jepang pun sudah memastikan mulainya fenomena El Niño di wilayah Pasifik ekuator semenjak pertengahan Juni lalu.

Walau begitu, estimasi hasil produksi global tetap menjadi faktor pembendung bagi kenaikan harga yang terlalu tinggi. 

Layanan Pertanian Luar Negeri (FAS) Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengestimasi volume produksi kopi Brasil pada musim 2026/2027 dapat menembus rekor baru sebesar 71,9 juta karung, atau tumbuh sekitar 14% bila dikomparasikan dengan musim sebelumnya. 

Rabobank turut merevisi naik prediksi surplus kopi arabika global untuk musim 2026/2027 menjadi 9,5 juta karung dari proyeksi awal sebesar 7 juta karung, yang memberi indikasi bahwa ketersediaan barang masih berpeluang memenuhi kebutuhan dalam jangka menengah.

Jika ditinjau dari sektor perdagangan, aktivitas ekspor kopi Brasil masih memperlihatkan grafik yang positif. Cecafe memaparkan bahwa volume ekspor kopi mentah (hijau) Brasil pada bulan Mei naik sebesar 4,2% secara tahunan (YoY) hingga menyentuh angka 2,73 juta karung.

Sentimen penekan bagi harga robusta juga datang dari Vietnam selaku produsen utama di tingkat global. Kantor Statistik Nasional Vietnam mencatat bahwa performa ekspor kopi sepanjang periode Januari–Mei 2026 bertumbuh 7,9% hingga mencapai 922.000 ton. 

Output kopi dari negara tersebut untuk musim 2025/2026 diestimasi melonjak 6% menjadi 1,76 juta ton atau berkisar 29,4 juta karung, yang merupakan angka tertinggi dalam periode empat tahun terakhir.

Sementara itu, Organisasi Kopi Internasional (ICO) mengabarkan bahwa ekspor kopi global di sepanjang tahun pemasaran yang sedang berjalan ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,3% menjadi 138,66 juta karung. 

USDA mengestimasi total produksi kopi dunia untuk musim 2025/2026 bakal mencetak rekor tertinggi di angka 178,85 juta karung. Lonjakan total tersebut utamanya disokong oleh performa produksi robusta, sedangkan untuk lini produksi arabika justru diproyeksikan mengalami penurunan.

Meskipun demikian, volume stok akhir kopi global diprediksi bakal menyusut ke kisaran 20,15 juta karung dari yang sebelumnya sebesar 21,31 juta karung pada musim lalu, sehingga situasi pasar diperkirakan bakal tetap peka terhadap segala bentuk anomali cuaca di negara-negara produsen utama.

Reporter: Ibtihal