Enam Perusahaan Siap IPO di Tengah Tekanan Jual IHSG

Ilustrasi bursa efek Indonesia (BEI). (Foto: SHUTTERSTOCK)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 09:20:24 WIB

JAKARTA – Antrean menuju pasar modal terpantau kembali padat menjelang paruh pertama 2026. Sebanyak enam korporasi bersiap menguji ketertarikan para pemodal lewat skema penawaran umum perdana saham (IPO). 

Keenam korporasi tersebut meliputi PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS), PT PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk. (JELI).

Maraknya aksi IPO ini bergulir di saat bursa saham tengah didera tekanan jual masif yang mengakibatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 31,81% year to date (YtD) menuju posisi 5.896,14 pada Jumat (26/6). 

Kemerosotan indeks komposit tersebut dibarengi pula oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing secara akumulatif yang menyentuh angka Rp71,68 triliun. 

Di tengah situasi penyusutan ini, keberhasilan IPO rawan terhambat oleh minimnya daya serap pasar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpandangan bahwa gelombang IPO yang tengah mengantre saat ini memang berbarengan dengan posisi BI Rate yang tinggi. 

Lonjakan BI Rate sekarang ini memicu biaya dana (cost of fund) pada lini perbankan otomatis ikut membengkak, sehingga bunga untuk kredit modal kerja maupun investasi menjadi lebih mahal.

Di lain sisi, lewat instrumen ekuitas atau bursa saham, menurutnya korporasi dapat memperoleh dana segar tanpa perlu dibayangi beban bunga berkala ataupun kewajiban pelunasan pokok utang (debt service) layaknya pinjaman perbankan atau penerbitan surat utang (obligasi). 

Maka dari itu, IPO dinilai oleh Nafan menjadi pilihan restrukturisasi modal yang sangat sehat demi memelihara likuiditas internal perusahaan.

“Pendanaan lewat IPO di sisa akhir tahun ini sangat menarik dari sisi kebutuhan emiten, tetapi proses eksekusinya akan menuntut kompromi besar pada penentuan harga perdana agar bisa memikat likuiditas investor yang sedang selektif,” jelas Nafan, dikutip Minggu (28/6/2026).

Nafan menyarankan pada situasi terkini agar para pemodal tetap bersikap selektif dengan mengorelasikan kombinasi aspek valuasi, profitabilitas, sponsor/UBO, rencana alokasi dana IPO, serta risiko likuiditas pasca-listing.

Nafan turut membedah keistimewaan masing-masing saham IPO tersebut. Menurut analisisnya, PRDL cukup atraktif ditinjau dari sisi valuasinya yang paling ekonomis, dengan PER pada level 10,3 hingga 12,3 kali, serta PBV post-IPO di rentang 1,2 kali hingga 1,4 kali. Emiten ini juga bernilai tambah karena disokong oleh Grup Prodia.

“Kalau BACH mencatat ROE tertinggi 28,9% dan didukung Grup Djarum, dengan potensi market cap sekitar Rp2,04 triliun,” jelas Nafan.

Sementara itu, JECX memegang kelebihan berupa sokongan dari Grup Emtek, serta memiliki potensi kapitalisasi pasar terbesar di kisaran Rp4,55 triliun. Kendati demikian, valuasinya tergolong paling premium dengan PER di kisaran 52,9 hingga 61,8 kali.

Nama lainnya, yakni RANS, dipandang oleh Nafan memegang brand awareness yang solid, mencatatkan nilai ROA tertinggi sebesar 13,2%, serta memiliki rasio DER paling rendah di antara jajaran saham emiten IPO lainnya, yaitu pada level 0,35 kali.

“JELI dan EMMI sama-sama mencatat ROE solid masing-masing 27,0% dan 25,2%, namun valuasi yang premium dan leverage keduanya relatif lebih tinggi,” terang Nafan.

PERTUMBUHAN

Pada kesempatan berbeda, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memberikan penilaian bahwa di antara jajaran saham emiten IPO saat ini, EMMI dan PRDL memegang growth story yang paling kuat. 

Menurut pandangannya, kedua emiten di bidang kesehatan ini ditopang oleh rencana perluasan diagnostik serta penetrasi pasar yang tergolong masih luas.

Bukan hanya itu, Abida juga melihat RANS mempunyai nilai lebih selaku emiten di sektor ekonomi kreatif serta memegang brand recognition yang tinggi. 

Walau begitu, faktor risikonya bertumpu pada model bisnis konten yang dinilai sebagai corak bisnis yang masih perlu ditelisik lebih mendalam terkait peluang pertumbuhan jangka panjangnya.

Selanjutnya, untuk saham JELI dari emiten sektor konsumer, menurut Abida memegang basis permintaan yang kokoh yang dapat memelihara ekspektasi pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

Dalam hal menyortir saham IPO bersandarkan pada rencana pemanfaatan dana publiknya, Abida menguraikan bahwa alokasi dana IPO untuk pelunasan utang tidak serta-merta memangkas daya tarik saham tersebut, asalkan dapat disandingkan dengan cetak biru ekspansi yang transparan. 

Menurut analisisnya, penyelesaian utang di tengah iklim suku bunga tinggi justru bakal memperkokoh neraca keuangan dan mendongkrak profitabilitas bersih ke depannya.

Di lain pihak, hal yang patut diwaspadai adalah proporsi pembagian dana antara deleveraging dan investasi pertumbuhan sebagai barometer dari kualitas growth story emiten bersangkutan.

Secara umum, Abida memproyeksikan momentum aksi IPO di paruh kedua 2026 ini berkesempatan membaik seiring meredanya tensi geopolitik, adanya kepastian pasca MSCI, serta bangkitnya IHSG yang menghadirkan window of opportunity yang jauh lebih kondusif.

“Antrean IPO yang mulai ramai adalah sinyal pemulihan kepercayaan pasar modal dengan kualitas emiten sebagai penentu keberlanjutan momentum,” jelas Abida.

Fenomena maraknya IPO di sisa tahun ini turut diamankan oleh faktor kondisi iklim suku bunga yang tengah melonjak. Menurutnya, IPO justru menjelma sebagai pilihan pendanaan yang jauh lebih memikat di tengah kondisi BI Rate 5,75% lantaran tidak menambah tanggungan bunga layaknya pinjaman perbankan.

Reporter: Ibtihal