Harga Emas Dunia Melemah Tertekan Prospek Suku Bunga Federal Reserve

Ilustrasi Emas. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 09:52:13 WIB

JAKARTA - Nilai emas global menyusut pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026) lantaran dolar Amerika Serikat (AS) melonjak ke posisi tertingginya dalam kurun waktu satu tahun belakangan, sejalan dengan melonjaknya prediksi pasar atas kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Keperkasaan dolar tersebut menggeser dukungan bagi pergerakan emas yang datang dari penurunan nilai minyak mentah di tengah adanya perkembangan positif dalam komunikasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga emas di pasar spot terpangkas 1,93 persen menuju angka USD4.110,74 per troy ons.

Mata uang dolar AS merangkak naik ke posisi tertingginya dalam setahun lebih pada perdagangan Selasa, sehingga mengakibatkan komoditas emas menjadi terasa lebih mahal bagi para pemegang mata uang di luar dolar.

"Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Saya pikir pasar lebih mencermati pernyataan Federal Reserve pekan lalu," kata Ahli Strategi Pasar Senior StoneX, Bob Haberkorn, dikutip Reuters.

Indikasi hawkish dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, mengenai komitmen meredam laju inflasi telah memicu para penanam modal untuk menaikkan taruhan mereka pada potensi kenaikan suku bunga acuan.

Merujuk indikator CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan tingkat suku bunga untuk bulan Desember sudah menyentuh kisaran 86 persen, melonjak dari posisi 61 persen sebelum terlaksananya rapat The Fed pada pekan lalu.

Walaupun emas jamak difungsikan sebagai instrumen pelindung nilai dari dampak inflasi, komoditas logam mulia ini cenderung mengalami tekanan dalam ekosistem suku bunga yang tinggi lantaran sifatnya yang tidak memberikan keuntungan bunga atau imbal hasil.

Melihat dari sektor geopolitik, pihak AS memberikan kelonggaran penangguhan sanksi kepada Iran selama 60 hari terhitung sejak Senin menyusul bergulirnya pembicaraan tahap awal terkait kesepakatan damai. Kendati demikian, gejolak bersenjata di wilayah Lebanon diinfokan masih berjalan.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengutarakan bahwa dialog bersama perwakilan pejabat Iran di Swiss telah membangun landasan yang kokoh menuju tercapainya perjanjian damai permanen.

Di sisi lain, arus pelayaran kapal tanker di kawasan Selat Hormuz dilaporkan mulai menunjukkan peningkatan setelah sebelumnya sempat tersendat akibat eskalasi regional.

Nilai minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa. Para pelaku pasar kini tengah mengantisipasi rilis data pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pada hari Kamis, yang menjadi indikator inflasi acuan bagi The Fed, guna memperoleh kompas lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Di barisan logam mulia lainnya, nilai perak spot terpantau anjlok 4,9 persen ke angka USD61,98 per ons. Sementara platinum melemah 1,2 persen menuju harga USD1.657,92 per ons, disusul paladium yang ikut merosot 2,6 persen menjadi USD1.232,28 per ons.

Reporter: Ibtihal