Transformasi Bisnis, SMKM Berencana Akuisisi Perusahaan Budidaya Udang

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:21:37 WIB
Ilustrasi ILUSTRASI, (SMKM) bersiap melakukan transformasi bisnis ke sektor akuakultur melalui rencana akuisisi perusahaan budidaya udang. (Foto:kompasiana.com)

JAKARTA – Emiten yang bergerak di bidang konstruksi, PT Sumber Mas Konstruksi Tbk. (SMKM), tengah bersiap untuk mengalihkan fokus bisnisnya ke sektor akuakultur. 

Langkah ini ditandai dengan rencana akuisisi perusahaan budidaya udang terintegrasi yang memiliki nilai transaksi mencapai US$100 juta.

Perusahaan bakal beralih dari yang sebelumnya fokus pada bidang konstruksi konvensional menjadi sebuah grup infrastruktur akuakultur serta ekosistem yang terintegrasi, baik pada skala nasional maupun regional.

Hal ini dilakukan lewat rentetan aksi korporasi terhadap PanAsia Aquaculture Pte. Ltd. Group of Companies (PanAsia Group) dan LSO Organization Holdings Pte. Ltd. (LSO Holdings).

Sebagai tahapan awal, SMKM telah melakukan penandatanganan kesepakatan jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase agreement (CSPA) guna mengakuisisi PanAsia Group dari Lim Shrimp Org Pte. Ltd. (LSO).

Nilai transaksi tersebut diperkirakan menyentuh angka US$100 juta, dengan target finalisasi transaksi pada kuartal III/2026.

Tidak berhenti di situ, SMKM mempunyai rencana lanjutan untuk mencaplok LSO Holdings dengan nilai SGD13 juta yang ditargetkan selesai pada Juni 2027.

Diketahui, Limp Shrimp Pte. Ltd. bertindak sebagai pemilik 25% saham SMKM. Sebelumnya, Limp Shrimp menargetkan untuk mengambil alih 450 juta saham SMKM, atau setara dengan 35,91% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan.

Direktur PanAsia Group, Chong Chee Hoong, menyampaikan bahwa proses transformasi ini menjadi bagian dari rencana strategis demi mendirikan ekosistem akuakultur berbasis teknologi yang terintegrasi di wilayah ASEAN.

Menurut dia, karakteristik dasar dari bisnis konstruksi yang melekat pada SMKM bakal dioptimalkan demi menyokong pembangunan infrastruktur akuakultur dalam skala masif, yang mencakup fasilitas pemrosesan hingga integrasi rantai pasok secara global.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami tidak hanya mengelola aset produktif, tetapi juga membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu hingga hilir,” ujar Chong dalam keterangannya, Minggu (18/5/2026).

Saat ini, PanAsia Group tengah menjalankan fasilitas tambak udang berbasis smart aquaculture di kawasan Sumbawa di atas lahan seluas 37 hektar dengan total 40 kolam yang aktif beroperasi sejak 2018. 

Kegiatan operasional tersebut diklaim berhasil memperoleh tingkat kelangsungan hidup udang di atas 80%.

Bukan hanya di Indonesia, PanAsia Group pun mempunyai lini operasi akuakultur di wilayah Sabah, Malaysia Timur. 

Di sana, mereka mengelola aset dengan luas kisaran 49 hektar yang sudah mulai berjalan sejak tahun 1998.

Chong mengimbuhkan, sesudah rampungnya proses reverse takeover (RTO), perusahaan mematok target untuk membangun infrastruktur akuakultur regional yang terintegrasi dalam jangka waktu lima tahun mendatang.

Langkah ini ditempuh lewat ekspansi operasi di tingkat regional, memperkuat sektor hilirisasi, serta mengembangkan teknologi untuk operasional.

Dia pun menyebutkan bahwa jajaran manajemen SMKM yang berada di bawah arahan Budi Aris dan Ruben Partogi kini tengah menyelaraskan visi jangka panjang terkait transformasi ini demi menguatkan sinergi operasional internal perseroan.

Langkah transformasi ini sekaligus menjadi momentum diversifikasi bisnis SMKM yang semula berada di sektor konstruksi beralih menuju industri akuakultur serta perdagangan hasil laut, yang dinilai mempunyai prospek pertumbuhan jauh lebih menjanjikan di kawasan ASEAN.

Terkini