JAKARTA – Perusahaan batu bara kepunyaan Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), membagikan petunjuk mengenai dividen tahun buku 2025 kepada para pemilik sahamnya.
Melalui rilis resmi perusahaan, manajemen BYAN mengungkapkan bahwa mereka mempunyai rekam jejak yang sudah teruji dalam mengelola dana kas guna menekan angka leverage, kemudian mengembalikan kelebihan dana kas tersebut kepada para pemilik saham.
"BYAN telah membagikan total dividen sebesar US$4,6 miliar dalam lima tahun terakhir," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
BYAN pun memaparkan telah menggelontorkan dividen senilai US800jutauntuktahun2023sertaUS700 juta untuk tahun 2024.
Sementara itu, terhitung sejak 2020 sampai 2024, BYAN tercatat sudah menggelontorkan dividen mencapai US$4,6 miliar kepada pemilik sahamnya, lewat rasio pembayaran dividen sebesar 75%.
Di samping itu, BYAN dijadwalkan bakal melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada tanggal 18 Mei 2026.
Sebagai informasi pendukung, BYAN membukukan pendapatan senilai US821,6 juta atau setara R p13,96 triliun (mengacu kurs Jisdor Rp16.993 per dolar AS pada 31 Maret 2026). Perolehan pendapatan tersebut menyusut 7,70890,15 juta.
Porsi terbesar dari pendapatan BYAN di kuartal I/2026 didapatkan dari bisnis batu bara sebesar US$ 1,11 miliar.
Oleh karena itu, BYAN mengantongi laba bersih senilai US190,79 atau berkisar Rp 3,24 triliun pada kuarta lI/2026, mengalami penurunan 12,45217,91 juta.
Sementara itu, pada tahun ini BYAN menyiapkan anggaran belanja modal di kisaran US200jutahinggaUS300 juta untuk tahun 2026, atau sebanding dengan Rp3,38 triliun sampai Rp5,07 triliun (mengacu kurs Rp16.916 per dolar AS).
Mengacu pada data internal perusahaan, BYAN merealisasikan belanja modal senilai US181,7 juta sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut berada jauh di bawah pagu pengeluaran modal (capex) yang dipatok perusahaan sebesar US399,2 juta pada tahun lalu.
"Belanja modal 2026 sekitar US200juta—US300 juta," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bukan hanya panduan capex, BYAN pun membeberkan target untuk beberapa parameter keuangan serta operasional pada tahun 2026. Walau begitu, rentang sasaran yang dipasang tergolong cukup lebar.
Sepanjang tahun 2026, BYAN memproyeksikan pendapatan berkisar antara US1,8miliarsampaiUS3,8 miliar. Sebagai informasi pembanding, Bayan Resources tercatat mengumpulkan pendapatan senilai US3,42miliarataumengalamipenurunantipis0,553,44 miliar pada tahun 2024.
Dari aspek operasional, sasaran volume produksi batu bara BYAN di tahun 2026 dipatok sekitar 39 juta sampai 76 juta ton, dengan rencana volume penjualan batu bara berada pada kisaran 39 juta hingga 78 juta ton.
BYAN mengestimasi rerata biaya tunai untuk produksi batu bara berada di angka US36hinggaUS42 per ton, serta rasio pengupasan tanah sebesar 4,8 sampai 5,2 kali.
"Pedoman harga jual rata-rata pada 2026 sekitar US46—US48 per ton," sebagaimana dilansir dari berita sumber.