JAKARTA – Harga minyak dunia tengah menuju tren kenaikan mingguan akibat penutupan jalur krusial di Selat Hormuz yang masih berlangsung.
Hingga saat ini, langkah-langkah untuk menghentikan peperangan masih nampak suram, dan gangguan yang menginterupsi pasar global diprediksi bakal terus berlanjut.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini berada di kisaran US102 per barel, dengan kenaikan harga berjangka mencapai hampir 7106 pada hari Kamis.
Blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan di Iran tetap berjalan, dibarengi dengan kondisi perairan wilayah tersebut yang masih sangat berisiko bagi pelayaran.
Terlaporkan sebuah kapal komersial ditangkap oleh pihak yang tidak memiliki otoritas di gerbang masuk selat, lalu digiring menuju wilayah perairan Iran.
Berdasarkan keterangan pejabat Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump telah mengadakan pertemuan dengan pemimpin China Xi Jinping pada hari Kamis.
Keduanya membicarakan langkah menjaga keterbukaan Selat Hormuz guna menyokong perdagangan energi, sekaligus memperbesar distribusi minyak AS ke negara di Asia tersebut.
Meski demikian, laporan resmi dari pihak China mengenai pertemuan itu tidak memasukkan sektor energi dalam daftar topik, walau mengakui adanya pembahasan mengenai Timur Tengah.
Melalui unggahan di Truth Social pada Jumat dini hari, Trump menyatakan bahwa “pemusnahan militer Iran [akan dilanjutkan!]”, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia juga menyisipkan harapan bahwa “semoga hubungan kami dengan China akan lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya!”, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Badan Energi Internasional (IEA) pada pekan ini menyebutkan bahwa perang ini memicu penurunan cadangan minyak dunia dengan kecepatan yang mencetak rekor.
Pasar diprediksi akan mengalami “sangat kekurangan pasokan” hingga bulan Oktober, tetap berlaku sekalipun pertempuran berakhir pada bulan depan.
Data dari AS yang terbit pada Selasa lalu juga mempertegas bagaimana konflik tersebut memicu kembali inflasi, yang menambah beban domestik bagi Trump menjelang Pemilihan paruh waktu di bulan November.
Dennis Kissler, selaku wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc, memberikan analisisnya.
“Saya pikir jalur resistensi terendah dalam jangka pendek untuk harga tetap condong ke sisi bullish karena kami terus melihat persediaan minyak mentah dan bahan bakar menyusut,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bahwa “Karena kesepakatan saat ini masih jauh dari titik temu, eskalasi ketegangan lebih mungkin terjadi daripada tidak,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meskipun gencatan senjata sudah diupayakan sejak awal April di tengah berbagai insiden, pihak Washington dan Teheran terlihat belum menunjukkan kemajuan berarti dalam mendamaikan perbedaan kedua belah pihak.
Belum lama ini, Trump menyebutkan bahwa gencatan senjata tersebut berada dalam "kondisi kritis," sambil memberikan cibiran atas respons Iran terhadap proposal pengakhiran perang yang diajukannya.
Terkait detail harga, WTI untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan 0,7% ke posisi US101,91 per barel pada pukul 6.56 pagi di Singapura.
Sedangkan Brent untuk pengiriman Juli ditutup tidak banyak berubah diangka US105,72 per barel pada perdagangan Kamis waktu setempat.
Semenjak konflik pecah, tercatat hanya segelintir kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia, yang mengakibatkan terkurasnya aliran energi utama termasuk gas alam ke pasar global.
Namun, langkah perusahaan dagang Vitol Group yang menawarkan minyak mentah Irak kepada pembeli menjadi indikasi bahwa sejumlah kargo kemungkinan telah berhasil keluar dari area Teluk.
Berdasarkan pengumuman Badan Informasi Energi (EIA) pekan ini, volume aliran minyak mentah serta bahan bakar yang melewati Selat Hormuz merosot hingga hampir 6 juta barel per hari pada kuartal pertama setelah terjadinya permusuhan di akhir Februari.