Wall Street Melemah S&P 500, Nasdaq Terseret Inflasi dan Konflik Iran

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01:32 WIB
Ilustrasi Wall Street Melemah S&P 500. (Foto: kontan.co.id)

NEW YORK – Bursa Wall Street mengakhiri perdagangan dengan hasil yang beragam, di mana dua indeks utamanya terpantau melemah. 

Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan dari level rekor tertingginya seiring rilis data inflasi yang melampaui estimasi serta kondisi gencatan senjata AS-Iran yang kian rapuh. 

Hal ini memaksa para investor untuk mengalihkan perhatian dari potensi reli pasar ke laporan kinerja keuangan kuartal pertama.

Pada Selasa (12/5/2026), Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 56,09 poin atau 0,11% ke level 49.760,56. 

Sebaliknya, S&P 500 merosot 11,88 poin atau 0,16% ke angka 7.400,96, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 185,92 poin atau 0,71% menuju 26.088,20.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor teknologi dan barang konsumsi non-esensial menjadi yang paling terdampak penurunan. 

Di sisi lain, sektor barang konsumsi esensial serta kesehatan justru memimpin penguatan. Koreksi pada saham teknologi menjadi beban utama bagi Nasdaq, sedangkan sektor kesehatan yang ditopang lonjakan saham Humana berhasil menjaga Dow Jones tetap berada di zona hijau.

Kendati mengalami aksi jual, posisi S&P 500 dan Nasdaq dilaporkan masih berada di dekat level tertinggi sepanjang sejarah. 

Seiring berakhirnya musim laporan keuangan, pelaku pasar kini lebih berfokus pada perkembangan makroekonomi, geopolitik, serta valuasi saham.

 Walaupun indeks PHLX Semiconductor turun 3%, secara tahun berjalan indeks ini telah tumbuh 65,4% berkat antusiasme terhadap teknologi kecerdasan buatan.

"Prediksi kami adalah agar pasar stabil karena keserakahan terjadi selama musim laporan keuangan dan ketakutan setelahnya," kata Jay Hatfield, CEO dan manajer portofolio di InfraCap di New York.

Data ekonomi terkini memperlihatkan harga konsumen tumbuh lebih cepat pada bulan lalu dibandingkan prediksi para analis. 

Hal ini dipicu oleh terganggunya pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz di tengah peperangan dengan Iran.

"Inflasi tidak akan membaik kecuali harga minyak turun," tambah Hatfield. "Itulah sejarah yang bisa Anda jadikan patokan."

Konflik dengan Iran yang sudah memasuki pekan ke-11 tampak belum akan menemui titik terang dalam waktu dekat. 

Presiden AS Donald Trump menyebut situasi gencatan senjata saat ini "dalam kondisi kritis" setelah pihak Teheran menampik proposal AS guna menyudahi konflik dan tetap pada tuntutan yang dianggap Trump sebagai "sampah."

Potensi konflik yang memanjang ini memperbesar kemungkinan kenaikan harga energi yang dapat memicu inflasi lebih luas. 

Kondisi tersebut melenyapkan harapan akan penurunan suku bunga The Fed tahun ini di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang baru saja dikonfirmasi Senat AS sebagai anggota dewan The Fed pada Selasa.

"Warsh tidak akan mampu menurunkan suku bunga bahkan jika dia mau, dan saya rasa dia tidak akan mau," tutur Hatfield, yang juga menyatakan optimisme terhadap rencana reformasi The Fed oleh Warsh.

Probabilitas kenaikan suku bunga pun kian meningkat. Berdasarkan alat FedWatch CME, pasar keuangan memprediksi peluang sebesar 30,5% bagi bank sentral untuk mengerek suku bunga 25 basis poin pada Desember mendatang, naik dari posisi 21,5% pada Senin (11/5/2026).

Pada pekan ini, Trump direncanakan menuju Beijing untuk menemui Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut akan membahas isu tarif, bantuan militer ke Taiwan, peran China dalam mediasi perdamaian dengan Iran, hingga perpanjangan kesepakatan perdagangan logam tanah jarang.

Dalam sesi perdagangan ini, beberapa pergerakan saham yang mencolok meliputi:

1. Humana: Naik 7,7% setelah kenaikan target harga oleh Bernstein.
2. Zebra Technologies: Melonjak 11,4% berkat kenaikan perkiraan pertumbuhan penjualan tahunan.
3. Venture Global: Melesat 14,2% setelah menaikkan proyeksi laba inti tahunan.
4. GameStop: Turun 3,5% menyusul penolakan tawaran pengambilalihan oleh eBay.
5. Hims & Hers Health: Anjlok 14,1% karena pendapatan kuartal pertama dan kerugian yang tidak sesuai ekspektasi pasar.

Terkini