JAKARTA – Danantara Indonesia menilai sorotan pasar modal saat ini tertuju pada industri kecerdasan buatan (AI).
Tren tersebut memicu lonjakan signifikan pada bursa saham Taiwan dan Korea Selatan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami koreksi hingga dua digit sejak awal tahun.
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membeberkan hasil kunjungannya ke Amerika Serikat, di mana terdapat empat perusahaan teknologi raksasa dunia yang tertarik berekspansi ke Indonesia.
"Kemarin juga saya ketemu dengan the big, ada 4 perusahaan terbesar di dunia untuk teknologi. Semuanya mau ke Indonesia nyarinya energi," kata Pandu saat ditemui di Kantor BEI, Jakarta, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pandu berpendapat bahwa Indonesia belum optimal dalam memanfaatkan sektor AI, lantaran fundamental pasar modal dalam negeri masih terkonsentrasi pada industri konvensional. Hingga kini, belum ada pihak yang sungguh-sungguh mengikuti tren AI tersebut.
"Padahal untuk AI berkembang seharusnya basis energi yang mengikuti itu. Jadi ya boleh dibilang apakah ini [koreksi tajam IHSG] soal MSCI? Menurut saya, MSCI sudah relatif melunak. Mungkin adalah soal kreativitas kalau mau lihat," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Argumen mengenai minimnya dampak MSCI terhadap pelemahah IHSG didasarkan pada perbandingan dengan negara lain.
Ia memberi contoh India yang memiliki emiten dengan proyek pembangkit listrik 30 gigawatt (GW) untuk menyokong AI, meski peringkat kreditnya di bawah Indonesia.
Sementara itu, Taiwan memiliki TSMC yang valuasi pasarnya melampaui gabungan seluruh pasar ASEAN. Narasi AI yang kuat di kedua negara itu belum tampak di pasar modal Indonesia yang masih didominasi saham perbankan.
Danantara juga menyoroti emiten energi domestik yang belum mengambil peluang pertumbuhan AI, padahal potensi tersebut terbukti mampu mendongkrak harga saham berkali-kali lipat di pasar global.
"Aku udah ngomong sama beberapa owner-nya perusahaan energi. Kenapa kalian gak punya off-taker data center? Then you can tell a story energy for AI. Hanya cerita kayak gitu, di Korea, di Amerika, saham bisa naik 5-6 kali lipat. Tapi aku udah nginfo-in, tapi gak dijalanin," tandasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.