IGC Prediksi Produksi Gandum dan Jagung Dunia Turun Kuartal II/2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 11:52:17 WIB
Ilurtrasi Gandum. (Foto: net)

JAKARTA – Estimasi merosotnya output gandum serta jagung global pada musim 2026–2027 memperlebar potensi ancaman bagi ketahanan pangan dunia. 

Pada periode yang sama, Indonesia juga menghadapi risiko penurunan panen beras di kuartal II/2026 akibat penciutan lahan panen dan anomali cuaca.

Merujuk data Western Producer, International Grains Council (IGC) memproyeksikan total produksi biji-bijian global bakal berkurang hingga 60 juta ton. 

Penurunan ini didominasi oleh komoditas jagung dan gandum, sementara kedelai diperkirakan meningkat. 

Tekanan sektor ini dipicu oleh lonjakan harga pupuk dan ancaman El Nino di berbagai wilayah produsen utama, yang berisiko mengguncang harga pangan internasional bagi negara importir seperti Indonesia.

Output gandum dunia diprediksi susut 23,9 juta ton menjadi 820,8 juta ton. Kehilangan besar terjadi di negara eksportir utama sebesar 35,4 juta ton, meliputi Amerika Serikat (7,2 juta ton), Uni Eropa (5,8 juta ton), Australia (4,2 juta ton), dan Kanada (3,4 juta ton).

 Di AS, kekeringan di dataran selatan merusak tanaman gandum musim dingin. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kondisi gandum Kansas tercatat hanya 33 persen dalam kategori baik hingga sangat baik, sementara 41 persen masuk kategori buruk hingga sangat buruk."

Australia juga terdampak El Nino yang memicu cuaca kering saat fase tanam, ditambah kendala pasokan pupuk. 

Sementara itu, produksi jagung global diproyeksi turun 24 juta ton menjadi 1,3 miliar ton karena mahalnya biaya produksi. Di sisi lain, produksi kedelai dunia ditaksir naik 13 juta ton menjadi 441 juta ton akibat peralihan lahan dari jagung.

Secara domestik, tekanan serupa terjadi pada beras. BPS memprediksi produksi beras nasional April–Juni 2026 sebesar 9,61 juta ton, turun 8,30 persen (0,87 juta ton) dibanding tahun lalu. 

Hal ini sejalan dengan berkurangnya luas panen menjadi 3,16 juta hektare. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyatakan, "realisasi produksi masih dapat berubah hingga Juni, tergantung kondisi pertanaman di lapangan. Risiko yang memengaruhi antara lain serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga hambatan saat panen di tingkat petani."

Kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena dapat menyulitkan stabilisasi harga pangan jika cuaca ekstrem berlanjut. 

Lonjakan harga gandum global pun berisiko membebani industri terigu tanah air, sementara penurunan jagung dapat mendongkrak harga pakan ternak.

Terkini