Penjualan Mobil Listrik Murni Resmi Salip Mobil Bensin di Uni Eropa Akhir 2025

Kamis, 29 Januari 2026 | 10:55:59 WIB
Penjualan Mobil Listrik Murni Resmi Salip Mobil Bensin di Uni Eropa Akhir 2025

JAKARTA - Perubahan besar tengah terjadi di industri otomotif Eropa, terutama dalam preferensi konsumen terhadap jenis kendaraan yang digunakan sehari-hari. Tren ini semakin terlihat seiring meningkatnya minat terhadap teknologi ramah lingkungan yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.

Momentum tersebut mencapai titik penting pada penghujung tahun lalu ketika data penjualan kendaraan menunjukkan pergeseran signifikan. Untuk pertama kalinya, mobil listrik murni berhasil mencatatkan penjualan lebih tinggi dibanding mobil berbahan bakar bensin di kawasan Uni Eropa.

Untuk pertama kalinya, penjualan mobil listrik murni melampaui penjualan mobil berbahan bakar bensin di Uni Eropa. Data Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) menunjukkan, pada Desember 2025, kendaraan listrik baterai (battery electric vehicle/BEV) mencatat pangsa pasar 22,6 persen, sedikit lebih tinggi dibanding mobil bensin yang berada di angka 22,5 persen.

Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar otomotif Eropa sedang bergerak menuju era baru. Konsumen kini semakin terbuka terhadap pilihan kendaraan yang lebih ramah lingkungan sekaligus menawarkan efisiensi biaya operasional jangka panjang.

Capaian tersebut menandai tonggak penting dalam transisi industri otomotif Eropa menuju kendaraan ramah lingkungan. Meski demikian, mobil hybrid masih menjadi pilihan utama konsumen dengan pangsa pasar terbesar, mencapai 44 persen dari total pendaftaran kendaraan baru.

Dominasi mobil hybrid menunjukkan bahwa konsumen masih berada dalam fase transisi menuju elektrifikasi penuh. Kombinasi mesin pembakaran internal dan motor listrik dianggap sebagai solusi praktis sebelum beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik murni.

Perubahan peta pasar ini juga mencerminkan keberhasilan berbagai kebijakan pemerintah dan insentif yang mendorong penggunaan kendaraan rendah emisi. Selain itu, peningkatan infrastruktur pengisian daya turut memperkuat kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen otomotif global juga gencar meluncurkan model-model baru yang semakin terjangkau. Hal ini membuat mobil listrik tidak lagi dipandang sebagai produk premium semata, tetapi juga sebagai pilihan massal.

Meski demikian, para analis menilai bahwa pergeseran ini masih memiliki dinamika yang kompleks. Beberapa faktor teknis dan administratif juga turut memengaruhi statistik penjualan kendaraan di Eropa.

Dinamika Pasar dan Analisis Perubahan Penjualan

Analis otomotif independen, Matthias Schmidt, menilai penurunan penjualan mobil bensin tidak sepenuhnya mencerminkan peralihan drastis ke kendaraan listrik murni. Menurut dia, sebagian penurunan itu dipengaruhi oleh pengklasifikasian ulang sejumlah model bensin menjadi hybrid ringan (mild hybrid).

“Kendaraan ini tetap menggunakan mesin bensin dan hanya memberikan kontribusi kecil terhadap pengurangan emisi,” ujar Schmidt.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa data penjualan perlu dibaca secara cermat agar tidak menimbulkan interpretasi yang keliru. Perubahan klasifikasi kendaraan memang dapat memengaruhi komposisi statistik tanpa mencerminkan perubahan teknologi secara fundamental.

Ia memperkirakan mobil listrik murni baru benar-benar melampaui kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) secara menyeluruh dalam waktu sekitar lima tahun ke depan. Prediksi ini sejalan dengan target berbagai negara Eropa yang tengah mempercepat agenda dekarbonisasi sektor transportasi.

Proyeksi tersebut juga mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan kapasitas produksi kendaraan listrik. Meski permintaan meningkat, transisi penuh masih memerlukan penyesuaian besar di sisi pasokan dan distribusi.

Konsumen Eropa saat ini cenderung mempertimbangkan faktor biaya, jarak tempuh, serta kemudahan pengisian daya sebelum membeli mobil listrik. Oleh karena itu, pertumbuhan pasar diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak instan.

Di sisi lain, inovasi teknologi baterai yang terus berkembang diharapkan mampu menekan harga kendaraan listrik. Hal ini berpotensi mempercepat adopsi massal dalam beberapa tahun mendatang.

Tren ini juga menunjukkan bahwa produsen otomotif perlu terus beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen. Mereka yang lambat berinovasi berisiko tertinggal di tengah persaingan yang semakin ketat.

Persaingan Global dan Respons Produsen Eropa

Di pasar Eropa yang lebih luas, meliputi Uni Eropa, Inggris, dan Norwegia, penjualan mobil mencatat pertumbuhan tahunan selama enam bulan berturut-turut. Persaingan pun kian ketat, terutama dengan masuknya merek-merek asal China seperti BYD, Changan, dan Geely yang agresif menawarkan kendaraan listrik dengan harga kompetitif.

Masuknya produsen China memberi tekanan besar bagi merek-merek Eropa yang selama ini mendominasi pasar regional. Harga yang lebih terjangkau serta fitur teknologi yang semakin canggih membuat produk-produk tersebut cepat menarik perhatian konsumen.

Sementara itu, produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen dan BMW juga terus merespons tantangan tersebut dengan meluncurkan berbagai model kendaraan listrik baru. Strategi ini dilakukan untuk menjaga daya saing sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah perubahan tren pasar.

Peluncuran model-model baru tersebut juga mencerminkan keseriusan produsen Eropa dalam mendukung transisi energi bersih. Mereka tidak hanya berfokus pada performa, tetapi juga pada efisiensi, keamanan, dan kenyamanan pengguna.

Uni Eropa sendiri pada Desember lalu mengumumkan rencana untuk melonggarkan kebijakan yang sebelumnya mengarah pada pelarangan efektif mobil bermesin pembakaran internal pada 2035. Kebijakan ini memberikan ruang bagi produsen untuk menyesuaikan strategi bisnis mereka secara lebih fleksibel.

Langkah tersebut diambil di tengah tekanan dari industri otomotif yang menghadapi ketatnya persaingan global, tarif impor Amerika Serikat, serta tantangan profitabilitas kendaraan listrik. Pelonggaran kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas industri sekaligus tetap mendukung agenda transisi energi.

Produsen otomotif kini dihadapkan pada dilema antara investasi besar di teknologi listrik dan kebutuhan mempertahankan profitabilitas jangka pendek. Kondisi ini membuat kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam menentukan arah perkembangan industri.

Persaingan lintas kawasan juga memicu percepatan inovasi di sektor kendaraan listrik. Produsen berlomba menghadirkan teknologi baru yang mampu meningkatkan jarak tempuh, mempercepat waktu pengisian, dan menekan biaya produksi.

Optimisme Pasar dan Perubahan Preferensi Konsumen

Sekretaris Jenderal E-Mobility Europe, Chris Heron, optimistis pangsa pasar kendaraan listrik akan terus meningkat. Ia menyebut produsen Eropa mulai beradaptasi dengan menghadirkan mobil listrik yang lebih terjangkau, didukung oleh berbagai skema insentif dari pemerintah di masing-masing negara.

“Kami melihat penerimaan konsumen semakin positif. Penjualan kendaraan listrik di Eropa diyakini akan terus tumbuh pada 2026,” kata Heron.

Optimisme tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga dampak ekologis dari kendaraan yang mereka gunakan.

Selain itu, insentif fiskal seperti potongan pajak, subsidi pembelian, dan kemudahan akses pembiayaan turut mempercepat adopsi kendaraan listrik. Dukungan kebijakan ini menjadi katalis penting dalam mendorong perubahan perilaku konsumen.

Dari sisi produsen, pendaftaran kendaraan Volkswagen dan Stellantis di kawasan Eropa, Inggris, dan negara-negara EFTA masing-masing meningkat 10,2 persen dan 4,5 persen pada Desember. Sebaliknya, Renault mencatat penurunan pendaftaran sebesar 2,2 persen.

Data ini menunjukkan bahwa tidak semua produsen merasakan dampak positif dari pertumbuhan pasar secara merata. Perbedaan strategi produk, harga, dan positioning merek turut memengaruhi kinerja masing-masing perusahaan.

Tesla mengalami penurunan pendaftaran hingga 20,2 persen pada periode yang sama. Sebaliknya, BYD mencatat lonjakan signifikan dengan pertumbuhan pendaftaran mencapai 229,7 persen, mempertegas agresivitas produsen China di pasar Eropa.

Lonjakan BYD menjadi indikator kuat bahwa pasar Eropa semakin terbuka terhadap merek non-tradisional. Hal ini juga menandakan bahwa konsumen semakin fokus pada nilai dan teknologi dibanding asal merek semata.

Perubahan ini membuat peta persaingan industri otomotif menjadi semakin dinamis. Produsen lama dituntut untuk berinovasi lebih cepat agar tidak kehilangan pangsa pasar.

Gambaran Penjualan Keseluruhan dan Arah Masa Depan

Secara keseluruhan, penjualan mobil di Uni Eropa, Inggris, dan EFTA meningkat 7,6 persen menjadi sekitar 1,2 juta unit pada Desember 2025. Sepanjang tahun 2025, total penjualan mencapai 13,3 juta unit, tertinggi dalam lima tahun terakhir meski masih di bawah level sebelum pandemi.

Angka ini menunjukkan bahwa pasar otomotif Eropa mulai pulih secara konsisten setelah mengalami tekanan berat selama beberapa tahun terakhir. Pemulihan ini juga didorong oleh stabilisasi rantai pasok dan meningkatnya kepercayaan konsumen.

Khusus di Uni Eropa, total penjualan mobil naik 5,8 persen menjadi hampir satu juta unit pada Desember, dan tumbuh 1,8 persen menjadi 10,8 juta unit sepanjang 2025. Pendaftaran kendaraan listrik baterai, hibrida plug-in, dan hibrida listrik secara kolektif menyumbang 67 persen dari total pendaftaran kendaraan baru di kawasan tersebut.

Proporsi ini memperlihatkan bahwa kendaraan elektrifikasi kini menjadi arus utama dalam industri otomotif Eropa. Kombinasi antara kendaraan listrik murni dan hybrid menjadi fondasi utama transisi menuju sistem transportasi rendah emisi.

Kondisi tersebut juga mencerminkan keberhasilan strategi jangka panjang Uni Eropa dalam mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan. Regulasi yang konsisten, ditambah dukungan insentif, membentuk ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan pasar kendaraan listrik.

Ke depan, para analis memperkirakan persaingan akan semakin intens seiring masuknya lebih banyak pemain baru ke pasar Eropa. Hal ini berpotensi memberikan keuntungan bagi konsumen melalui pilihan produk yang lebih beragam dan harga yang semakin kompetitif.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait ketersediaan bahan baku baterai, pengembangan infrastruktur pengisian, serta keberlanjutan rantai pasok. Faktor-faktor tersebut akan menentukan seberapa cepat transisi menuju elektrifikasi penuh dapat terwujud.

Dalam konteks ini, keberhasilan mobil listrik murni melampaui mobil bensin pada Desember 2025 menjadi simbol perubahan arah industri otomotif global. Capaian tersebut menandai awal fase baru di mana kendaraan ramah lingkungan semakin mendominasi jalanan Eropa.

Tren ini juga memberikan sinyal kuat bagi pasar otomotif di kawasan lain untuk mengikuti langkah serupa. Dengan dukungan kebijakan, inovasi teknologi, dan penerimaan konsumen yang terus meningkat, kendaraan listrik diprediksi akan memainkan peran semakin besar dalam sistem transportasi masa depan.

Terkini