JAKARTA - Perum Bulog kini tengah menyiapkan skema pembayaran gabah kering panen (GKP) secara digital.
Langkah ini menandai transformasi dalam proses transaksi, yang sebelumnya sebagian besar dilakukan secara tunai. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa digitalisasi pembayaran akan meningkatkan keamanan, mempercepat proses, dan meminimalkan risiko penyimpangan atau korupsi.
"Ke depan untuk penyerapan gabah Bulog ini, gabah kering panen GKP ini, kami rencanakan pembayarannya menggunakan digital," ungkap Rizal.
Dengan penerapan sistem digital, Bulog memastikan bahwa baik petani maupun pegawai Bulog yang menangani uang dalam jumlah besar tetap terlindungi dari risiko keamanan.
Petani Wajib Memiliki Rekening Bank
Salah satu syarat utama bagi petani yang ingin menjual gabahnya ke Bulog adalah memiliki nomor rekening bank. Rizal menyebut, langkah ini akan diterapkan setelah rapat koordinasi dengan bank-bank BUMN anggota Himpunan Bank Negara (Himbara).
Dengan rekening masing-masing, pembayaran gabah bisa dilakukan secara langsung dan aman melalui sistem digital.
"Ini kami akan rapat dengan beberapa bank Himbara ya untuk ke depan harapannya para petani itu punya nomor rekening," ucap Rizal.
Ia menambahkan, sistem pembayaran digital ini akan diterapkan secara bertahap di wilayah yang memiliki jaringan sinyal memadai. Hal ini dimaksudkan agar transaksi dapat berlangsung lancar tanpa kendala teknis.
Keamanan Transaksi Menjadi Prioritas
Salah satu alasan utama digitalisasi pembayaran gabah adalah keamanan. Rizal menjelaskan, gabah yang dijual ke Bulog biasanya berasal dari lahan yang luas, sehingga jumlah uang yang dikonversi dari hasil penjualan bisa sangat besar. Transaksi tunai dalam jumlah tersebut berisiko tinggi.
"Satu sisi petaninya juga aman, yang kedua anggota Bulog yang membawa uang itu juga aman karena kalau yang dibawa kan enggak sedikit. Orang panen minimal 2 hektar, 3 hektar itu kan uangnya besar. Nah kalikan kalau satu hari dia panen mungkin lebih dari 100 hektar sampai 200 hektar kan uangnya banyak, ini kan membahayakan," jelas Rizal. Digitalisasi pembayaran diharapkan menjadi solusi agar semua pihak terlindungi.
Penerapan di Wilayah Terjangkau Jaringan GSM
Direktur Utama Bulog menegaskan bahwa penerapan pembayaran digital akan difokuskan pada daerah dengan jangkauan sinyal yang baik. Hal ini untuk memastikan kelancaran transaksi tanpa hambatan. Wilayah yang belum memiliki sinyal memadai kemungkinan akan menunggu pengembangan jaringan lebih lanjut.
"Oleh karena itu kami sarankan nanti akan kita gunakan digital sepanjang itu memang wilayahnya mampu di-cover oleh jaringan GSM dalam hal ini, sehingga ada sinyalnya," tandas Rizal. Strategi ini sekaligus memetakan kesiapan infrastruktur teknologi di tingkat lokal.
Pengembangan Gudang Tambahan untuk Menampung Produksi
Selain fokus pada sistem pembayaran digital, Bulog juga mencari gudang tambahan untuk menampung produksi beras lokal. Tahun ini, Bulog ditargetkan menampung cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4 juta ton. Saat ini, gudang Bulog memiliki stok beras 3,2 juta ton, namun kapasitas kosong hanya tersisa 900.000 ton.
"Kami juga sedang perintahkan tetap untuk mencari gudang-gudang tambahan. Karena apa? Karena gudang ini mau tidak mau akan menampung 4 juta ton tambahannya yang akan masuk," jelas Rizal.
Pencarian gudang tambahan dilakukan di berbagai wilayah agar distribusi beras dapat lebih merata dan efisien.
Target Tambahan Gudang Dua Juta Ton
Rizal menekankan bahwa Bulog harus menyiapkan gudang tambahan dengan total kapasitas 2 juta ton untuk semester II 2026. Penambahan gudang ini menjadi bagian dari strategi untuk menampung beras hasil panen nasional dan memastikan stok aman selama periode tinggi konsumsi, termasuk menjelang Ramadan.
"Oleh karena itu kami masih dorong supaya teman-teman cari 2 juta ton lagi tapi di semester II 2026," tambah Rizal. Langkah ini menunjukkan kesiapan Bulog dalam menghadapi lonjakan pasokan dan permintaan beras di masa mendatang.
Jumlah Gudang Bulog Saat Ini
Saat ini, Bulog memiliki 1.586 gudang permanen dan 100 gudang sewaan. Dari seluruh kapasitas tersebut, hanya tersisa ruang kosong 900.000 ton. Penambahan gudang menjadi penting untuk memenuhi target penyerapan gabah dan cadangan beras pemerintah di 2026.
Dengan penambahan gudang, Bulog akan lebih mudah menyalurkan beras secara merata ke berbagai daerah, sekaligus memastikan keamanan stok dan kelancaran distribusi gabah digital.
Manfaat Digitalisasi bagi Petani dan Bulog
Digitalisasi pembayaran gabah membawa keuntungan bagi kedua pihak. Petani mendapat kepastian pembayaran secara cepat dan aman, sedangkan Bulog tidak perlu menanggung risiko membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Selain itu, sistem digital membantu mencatat transaksi secara akurat dan meminimalkan kemungkinan kesalahan atau penyimpangan.
Menurut Rizal, penggunaan pembayaran digital juga mempermudah autentifikasi dan transparansi proses, sehingga semua pihak dapat memantau transaksi secara real time. Hal ini sejalan dengan upaya Bulog untuk modernisasi sistem distribusi pangan.
Transformasi digital dalam pembayaran gabah kering panen oleh Bulog menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi transaksi. Petani diharuskan memiliki rekening bank agar pembayaran dapat dilakukan secara digital.
Sementara itu, Bulog juga menyiapkan gudang tambahan untuk menampung produksi beras nasional hingga 4 juta ton pada 2026.
Dengan kombinasi digitalisasi pembayaran dan pengembangan gudang, Bulog siap menghadapi tantangan distribusi gabah dan beras, serta memastikan keamanan dan ketersediaan pangan bagi masyarakat.