JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mencuri perhatian pasar pada awal perdagangan akhir pekan ini.
Mata uang Garuda dibuka dengan penguatan tajam terhadap dolar Amerika Serikat, menandai kelanjutan tren positif yang sudah terbentuk sejak sesi sebelumnya. Situasi ini memberi napas lega bagi pelaku pasar di tengah tekanan global yang sempat mendorong rupiah mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah terapresiasi sekitar 0,47 persen ke posisi Rp16.800 per dolar AS. Penguatan tersebut melanjutkan capaian sehari sebelumnya, di mana rupiah ditutup menguat 0,30 persen di level Rp16.880 per dolar AS. Konsistensi pergerakan ini menunjukkan adanya sentimen positif yang cukup kuat di pasar valuta asing domestik.
Indeks Dolar Masih Tertekan Di Pasar Global
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar internasional. Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau masih berada di zona merah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun tipis 0,04 persen ke level 98,316, melanjutkan koreksi dari perdagangan sebelumnya yang melemah 0,41 persen di posisi 98,359.
Pelemahan beruntun indeks dolar ini menjadi faktor pendukung utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika dolar kehilangan daya tariknya, arus modal global cenderung mencari alternatif aset dengan potensi imbal hasil yang lebih menarik. Kondisi tersebut membuka peluang bagi mata uang emerging market untuk menguat.
Dolar Kehilangan Daya Tarik Investor
Penurunan indeks dolar mencerminkan berkurangnya minat pasar terhadap aset berdenominasi dolar AS. Situasi ini biasanya mendorong pergeseran dana ke mata uang lain atau ke aset berisiko yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi. Dalam konteks ini, rupiah menjadi salah satu penerima manfaat dari perubahan preferensi investor global.
Selain faktor teknikal, sentimen ini juga dipengaruhi oleh dinamika kebijakan dan kondisi geopolitik. Ketika ketidakpastian meningkat di Amerika Serikat, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar dan mencari diversifikasi ke pasar lain, termasuk kawasan Asia.
Gejolak Sikap Trump Tekan Mata Uang AS
Dari sisi eksternal, dolar AS berada di bawah tekanan setelah pasar global kembali diliputi ketidakpastian menyusul dinamika sikap Presiden AS Donald Trump terkait isu Greenland. Ancaman keras yang sempat dilontarkan, kemudian diikuti pembalikan sikap secara cepat, memicu kehati-hatian investor terhadap stabilitas kebijakan AS.
Perubahan sikap yang dinilai tidak konsisten tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengurangi kepemilikan aset-aset AS. Kondisi ini berpotensi membuat dolar membukukan pelemahan mingguan terdalam dalam setahun terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran global terhadap arah kebijakan ekonomi dan geopolitik Amerika Serikat.
Menanti Arah Kebijakan Bank Of Japan
Selain isu geopolitik, perhatian pasar global juga tertuju pada keputusan Bank of Japan. Kebijakan bank sentral Jepang dinilai dapat memengaruhi pergerakan mata uang utama dunia, termasuk dolar AS. Ketidakpastian menjelang pengumuman tersebut membuat investor cenderung bersikap wait and see, sehingga tekanan terhadap dolar masih berlanjut.
Situasi ini memberikan ruang bagi mata uang lain untuk bergerak lebih leluasa. Rupiah, yang sebelumnya sempat tertekan, kini mendapatkan momentum penguatan seiring melemahnya dolar dan membaiknya sentimen global.
Stabilitas Rupiah Jadi Fokus Dari Dalam Negeri
Dari sisi domestik, penguatan rupiah juga tidak lepas dari perhatian otoritas moneter. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, sehingga stabilisasi kurs menjadi isu penting. Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar untuk memastikan volatilitas tetap terjaga.
Upaya menjaga stabilitas ini dinilai krusial untuk mempertahankan kepercayaan investor dan pelaku usaha. Nilai tukar yang relatif stabil akan memberikan kepastian bagi aktivitas ekonomi, terutama bagi sektor yang bergantung pada impor dan transaksi valas.
Ekspektasi Pasar Dan Peran Bank Indonesia
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai bahwa kondisi pergerakan rupiah menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan nilai tukar. Menurutnya, stabilisasi rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi langsung di pasar valuta asing, tetapi juga pada kemampuan Bank Indonesia dalam mengelola ekspektasi investor.
“Dolar itu seperti komoditas. Kalau barangnya banyak harganya murah, kalau barangnya sedikit harganya mahal. Ketika suplai dolar rendah, harganya otomatis meningkat. Dampaknya, rupiah otomatis terdepresiasi,” ujar Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dolar di pasar. Ketika suplai terbatas, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar. Karena itu, langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia untuk meredam volatilitas berpotensi menggerus cadangan devisa, mengingat kebutuhan pasokan valuta asing yang meningkat.
Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Selama tekanan terhadap dolar AS berlanjut dan stabilitas dalam negeri tetap terjaga, rupiah berpeluang mempertahankan penguatan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dinamika global yang masih sarat ketidakpastian.