Strategi Ternak Ikan Nila Menguntungkan Efisiensi Pakan Terjaga Bisnis Terus Tumbuh

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:12:19 WIB
Strategi Ternak Ikan Nila Menguntungkan Efisiensi Pakan Terjaga Bisnis Terus Tumbuh

JAKARTA - Permintaan ikan nila yang konsisten dari tahun ke tahun membuat komoditas ini tetap menjadi andalan di sektor perikanan air tawar. 

Banyak pelaku usaha melihat nila bukan sekadar ikan konsumsi, tetapi juga peluang bisnis yang menjanjikan jika dikelola dengan tepat. Dengan pasar yang luas dan harga relatif stabil, budidaya ikan nila cocok dijalankan dari skala rumahan hingga usaha besar.

Namun, di balik potensi keuntungan tersebut, terdapat tantangan klasik yang sering menghantui pembudidaya, yakni tingginya biaya pakan. Pakan pabrikan dapat menyedot sebagian besar biaya produksi sehingga keuntungan menjadi tidak maksimal. Kondisi inilah yang mendorong banyak peternak untuk mencari strategi budidaya yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas hasil panen.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung dinamika tersebut adalah Wiwid, pemilik usaha ternak ikan nila rumahan di Ponggok, Kabupaten Klaten. Ia mengungkapkan bahwa ketersediaan dan harga pakan menjadi tantangan terbesar dalam menjalankan usaha. Meski demikian, dengan pengelolaan yang tepat, budidaya ikan nila tetap bisa memberikan hasil yang menguntungkan dan berkelanjutan.

Pemilihan Benih Berkualitas sebagai Pondasi Usaha

Keberhasilan budidaya ikan nila sangat ditentukan sejak tahap awal, yaitu pemilihan benih. Benih yang berkualitas umumnya memiliki ukuran seragam, bergerak lincah, tidak cacat, serta bebas dari penyakit. Memilih benih dari tempat pembenihan terpercaya juga penting untuk memastikan kualitas genetik yang baik sehingga pertumbuhan ikan lebih cepat dan tingkat kematian bisa ditekan.

Pengalaman Wiwid menunjukkan bahwa usaha ternak nila bisa dimulai dari skala kecil. Awalnya, ikan dipelihara hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi karena kapasitas kolam memungkinkan menampung lebih banyak ikan, budidaya pun dikembangkan menjadi usaha. Dengan pembibitan yang tepat, kolam tanah berukuran 16x19 meter mampu menampung ribuan ekor ikan untuk kebutuhan pasar.

Pemilihan benih yang baik bukan hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga pada efisiensi pakan. Ikan yang sehat dan unggul cenderung memanfaatkan pakan dengan lebih optimal sehingga biaya produksi dapat ditekan sejak awal siklus budidaya.

Persiapan Kolam yang Tepat untuk Pertumbuhan Optimal

Kolam menjadi media utama dalam budidaya ikan nila sehingga persiapannya tidak boleh dilakukan secara asal. Berbagai jenis kolam bisa digunakan, mulai dari kolam tanah, kolam semen, hingga jaring terapung. Dari segi efisiensi, kolam tanah masih menjadi pilihan favorit karena biaya pembuatannya relatif lebih murah.

Sebelum benih ditebar, kolam perlu dibersihkan dari kotoran dan organisme pengganggu. Proses pengeringan dan pemberian kapur bertujuan menstabilkan pH air agar sesuai dengan kebutuhan ikan nila. Setelah itu, air dimasukkan secara bertahap hingga mencapai ketinggian ideal.

Kualitas air harus selalu dijaga agar suhu, pH, dan kadar oksigen terlarut berada pada kondisi optimal. Lingkungan kolam yang stabil akan membantu ikan tumbuh lebih cepat, sehat, dan tidak mudah terserang penyakit, sehingga produktivitas usaha dapat terjaga.

Pencegahan Penyakit Menjadi Kunci Keberlanjutan

Penyakit merupakan ancaman serius dalam budidaya ikan nila karena dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan kerugian besar. Oleh sebab itu, pencegahan harus menjadi prioritas utama dibandingkan pengobatan. Kebersihan kolam, kepadatan ikan yang ideal, serta kualitas air yang terjaga menjadi faktor penting dalam mencegah penyakit.

Jika ikan mulai menunjukkan gejala tidak normal, seperti nafsu makan menurun atau pergerakan lambat, tindakan cepat harus dilakukan. Memisahkan ikan yang terinfeksi dan memberikan perlakuan sesuai jenis penyakitnya dapat mencegah penyebaran ke ikan lain.

Dengan pengelolaan yang disiplin, risiko penyakit bisa ditekan seminimal mungkin. Hal ini akan berdampak langsung pada efisiensi biaya dan kelangsungan usaha dalam jangka panjang.

Manajemen Pakan dan Solusi Biaya Tinggi

Pakan menjadi komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila. Umumnya, ikan nila diberi pakan pelet dengan kandungan protein 20–30 persen. Jumlah pakan disesuaikan sekitar tiga persen dari bobot tubuh ikan per hari dan diberikan pada pagi serta sore hari agar penyerapannya optimal.

Wiwid menekankan pentingnya memperhatikan kandungan protein pakan. Menurutnya, pakan dengan protein 31–33 persen memberikan pengaruh besar terhadap pertambahan bobot ikan. Selain itu, rasio konversi pakan atau Feed Conversion Ratio juga menjadi indikator penting dalam efisiensi budidaya.

Untuk menekan biaya pakan pabrikan yang terus meningkat, alternatif pakan tambahan dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah penggunaan azolla, tanaman air yang mudah dibudidayakan dan kaya nutrisi. Dengan kombinasi pakan pabrikan dan pakan alternatif, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan ikan.

Strategi Panen Menjaga Arus Keuntungan

Waktu dan strategi panen sangat menentukan kelancaran arus kas dalam usaha ternak ikan nila. Peternak tidak selalu harus menunggu ikan mencapai ukuran maksimal, melainkan menyesuaikan panen dengan kebutuhan pasar. Panen bertahap sering dilakukan agar pasokan ikan tetap tersedia dan harga jual bisa dioptimalkan.

Menurut Wiwid, ikan nila umumnya bisa dipanen sekitar tiga bulan sekali tergantung ukuran yang diinginkan. Dengan strategi ini, siklus produksi dapat berjalan lebih stabil tanpa jeda panjang yang berpotensi mengganggu arus pendapatan.

Konsistensi kualitas dan ketersediaan ikan akan meningkatkan kepercayaan pembeli. Dalam jangka panjang, hal ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan permintaan yang berkelanjutan, baik untuk pasar lokal maupun skala yang lebih besar.

Terkini