JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mencuri perhatian pelaku pasar.
Setelah sempat menunjukkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda melanjutkan tren positif terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen global dan domestik yang masih dinamis, meskipun kehati-hatian tetap menjadi sikap utama investor.
Penguatan rupiah di awal perdagangan memberikan sinyal optimisme jangka pendek. Namun, pelaku pasar tetap mencermati berbagai faktor eksternal yang berpotensi memicu volatilitas. Di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda, pergerakan rupiah dinilai masih rentan terhadap perubahan sentimen yang terjadi secara cepat.
Data perdagangan menunjukkan bahwa rupiah membuka hari dengan posisi yang lebih kuat dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski demikian, arah pergerakan sepanjang hari diperkirakan tidak akan berjalan satu arah. Fluktuasi masih akan mewarnai perdagangan seiring investor menimbang perkembangan isu global dan kebijakan dalam negeri.
Penguatan Rupiah di Pembukaan Perdagangan
Mengutip data Bloomberg pada Jumat, 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.849 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan sebesar 47 poin atau setara 0,28 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.896 per dolar AS. Kenaikan ini menandakan kelanjutan tren positif yang sudah terlihat sejak sehari sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di level Rp16.897 per dolar AS. Angka tersebut juga mencerminkan penguatan jika dibandingkan dengan posisi pembukaan perdagangan kemarin yang berada di level Rp16.958 per dolar AS. Perbedaan data ini menunjukkan variasi sumber, namun tetap mengindikasikan arah yang sama.
Penguatan di awal perdagangan umumnya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek yang bersifat responsif terhadap perkembangan global. Kondisi pasar yang relatif kondusif mendorong minat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, meski ruang penguatannya dinilai masih terbatas.
Dinamika Sentimen Global Mempengaruhi Pasar
Pergerakan rupiah tidak lepas dari pengaruh sentimen global yang terus berubah. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kekhawatiran di kawasan Eropa terhadap sikap keras serta potensi ancaman kebijakan perdagangan dari Washington terkait isu Greenland. Ketegangan ini memicu kehati-hatian di pasar keuangan internasional.
Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong investor global untuk lebih selektif dalam menempatkan dana. Aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang, masih menghadapi tekanan meskipun sesekali mendapatkan dorongan penguatan teknikal. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah cenderung tidak stabil.
Selain isu geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi negara-negara utama. Perubahan sikap atau pernyataan dari pemimpin dunia dapat dengan cepat memengaruhi persepsi risiko dan berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif. Meski dibuka menguat, rupiah diperkirakan berpotensi melemah seiring berjalannya perdagangan dengan kisaran pergerakan di rentang Rp16.930 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan tersebut berasal dari kombinasi sentimen global yang masih rapuh dan kehati-hatian investor dalam menyikapi perkembangan eksternal. Selama ketidakpastian global belum mereda, penguatan rupiah diperkirakan sulit berlanjut secara konsisten.
Fluktuasi ini mencerminkan kondisi pasar yang masih mencari keseimbangan. Investor cenderung memanfaatkan momentum jangka pendek, namun tetap membatasi eksposur terhadap risiko yang lebih besar. Hal ini membuat pergerakan rupiah cenderung naik turun dalam rentang terbatas.
Peran Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari kebijakan Bank Indonesia yang dinilai konsisten menjaga stabilitas. Bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Selain itu, suku bunga deposit facility tetap dipertahankan di level 3,75 persen, sementara suku bunga lending facility berada di level 5,5 persen. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya Bank Indonesia menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Langkah ini dinilai memberikan sinyal kepastian bagi pasar. Dengan suku bunga yang stabil, pelaku usaha dan investor memiliki acuan yang lebih jelas dalam mengambil keputusan, sehingga membantu meredam gejolak berlebihan di pasar keuangan.
Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian
Kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia juga bertujuan memperkuat efektivitas transmisi kebijakan makroprudensial. Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Di tengah tekanan global, stabilitas rupiah menjadi salah satu fokus utama otoritas. Nilai tukar yang relatif terjaga memberikan kepastian bagi pelaku usaha, terutama yang bergantung pada aktivitas impor dan ekspor. Dengan demikian, risiko dari fluktuasi tajam dapat diminimalkan.
Meski demikian, pasar tetap menyadari bahwa stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan domestik. Perkembangan global masih menjadi faktor dominan yang dapat memengaruhi arah pergerakan dalam jangka pendek.
Prospek Rupiah ke Depan
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Investor akan terus mencermati perkembangan isu global, termasuk dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi negara maju. Setiap perubahan sentimen berpotensi memicu pergerakan cepat di pasar valuta asing.
Di sisi lain, fundamental domestik yang relatif terjaga diharapkan mampu menjadi penyangga bagi rupiah. Konsistensi kebijakan moneter dan koordinasi dengan kebijakan fiskal menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar.
Dengan kombinasi faktor tersebut, rupiah berpeluang tetap bergerak stabil meski dalam rentang fluktuatif. Penguatan yang terjadi di awal perdagangan memberikan sinyal positif, namun kehati-hatian tetap diperlukan mengingat tantangan global yang masih membayangi.