JAKARTA - Nama Pascal Struijk kembali menjadi sorotan publik sepak bola Indonesia karena potensi naturalisasinya.
Bek Leeds United ini disebut memiliki darah Indonesia dari garis ibunya, sehingga PSSI sempat menelisik kemungkinan memanggilnya untuk Timnas Indonesia. Walaupun hingga kini Struijk lebih memilih menunggu panggilan Timnas Belanda, kisahnya tetap menarik untuk diulas.
Selain darah keturunan, kualitas Struijk di klub Eropa membuatnya menjadi figur menarik bagi pelatih manapun. John Herdman atau pengganti manajer Timnas Indonesia lainnya tentu bisa memanfaatkan fleksibilitas dan pengalaman Struijk di level kompetitif. Hal ini membuatnya tetap relevan sebagai topik bahasan dalam skema naturalisasi pemain diaspora Garuda.
Dibesarkan di Leeds United
Struijk bergabung dengan akademi Leeds United pada 2018, setelah menimba ilmu di klub-klub Belanda. Debutnya bersama tim utama Leeds terjadi pada Januari 2019 di Piala FA. Postur tinggi, duel udara kuat, dan ketenangan membaca permainan membuatnya dipercaya menjadi bek andalan, terutama saat Leeds promosi ke Premier League musim 2019/2020.
Peran Struijk di Leeds bukan hanya menjaga lini belakang. Kemampuannya menahan tekanan lawan dan mengatur permainan dari belakang menambah nilai lebih, sekaligus membuatnya jadi salah satu pemain kunci yang dapat diandalkan di berbagai skema permainan.
Jebolan Akademi ADO Den Haag dan Ajax
Karier sepak bola Struijk dimulai sejak usia tujuh tahun di akademi ADO Den Haag (2006-2016). Selanjutnya, ia hijrah ke Ajax Amsterdam U-19 pada 2016 hingga 2018. Setelah pindah ke Inggris, Struijk telah bermain 105 laga Premier League, mencetak empat gol dan dua assist, selama total 8.048 menit di lapangan.
Selain menjadi bek tengah, Struijk juga sering dimainkan sebagai bek kiri dan gelandang bertahan. Fleksibilitas ini membuatnya memiliki nilai lebih bagi pelatih klub maupun tim nasional, karena mampu mengisi beberapa posisi sesuai kebutuhan taktis.
Memperkuat Timnas Belanda U-17
Struijk lahir di Deurne, Belgia, pada 11 Agustus 1999, dan pernah memperkuat Timnas Belanda U-17 pada 2016. Ia mencatat tiga caps dan tampil di turnamen Algarve U-17. Salah satu momen penting adalah saat Belanda menahan Portugal 1-1, serta berpartisipasi di Euro U-17 menghadapi Spanyol dan Swedia.
Pengalaman di level junior ini membekalinya dengan mental bertanding di ajang internasional. Meskipun kini belum tergabung dengan tim senior Belanda, pengalaman ini menunjukkan bahwa Struijk memiliki kapasitas menghadapi tekanan besar, yang bisa menjadi aset jika bergabung dengan Timnas Indonesia di masa depan.
Garis Keturunan Indonesia yang Menguatkan Potensi
Pascal Struijk memiliki darah Indonesia dari ibunya. Kakek dan neneknya sempat tinggal di Hindia Belanda sebelum pindah ke Belgia. Hal ini menjadi dasar bagi PSSI untuk menelusuri kemungkinan naturalisasi, sekaligus menjadi koneksi historis yang menghubungkan Struijk dengan Indonesia.
Struijk sendiri mengakui hubungan keluarganya dengan Indonesia, meski lahir dan besar di Eropa. Ia menegaskan bahwa orang-orang Indonesia menyadari garis keturunannya, namun ia masih menunggu keputusan soal panggilan tim nasional yang akan diambil di masa mendatang.
Potensi dan Harapan Timnas Indonesia
Meski belum ada kepastian naturalisasi, Struijk tetap menjadi sorotan bagi publik dan pelatih Timnas Indonesia. Kualitas, fleksibilitas, dan pengalaman kompetitifnya membuatnya cocok menjadi bagian dari rencana penguatan Garuda. Herdman atau pengganti pelatih bisa memanfaatkan kemampuan Struijk untuk menambah daya tahan dan stabilitas lini belakang.
Integrasi pemain diaspora seperti Struijk juga memberi efek positif pada skuad lokal, karena dapat meningkatkan standar permainan dan memotivasi pemain muda untuk beradaptasi dengan tuntutan internasional. Keputusan naturalisasi, jika terjadi, akan memberi tambahan tenaga signifikan bagi Timnas Indonesia menghadapi turnamen regional maupun dunia.