ASMINDO Soroti Dampak Kenaikan Tarif Impor AS, Serukan Langkah Antisipatif

Senin, 07 April 2025 | 16:25:36 WIB
Foto: Ilustrasi Industri Mebel

JAKARTAB - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) menanggapi kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menaikkan tarif impor terhadap sejumlah produk Indonesia, termasuk furnitur dan kerajinan tangan. Kebijakan ini dinilai berpotensi memicu tantangan besar bagi sektor mebel nasional, termasuk ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum ASMINDO, Dedy Rochimat, menyampaikan kekhawatirannya bahwa turunnya tingkat utilisasi produksi akibat tarif tinggi dapat berdampak langsung pada pengurangan tenaga kerja di sektor tersebut.

“Jika utilisasi produksi terus menurun, konsekuensinya pasti akan dirasakan oleh para pekerja. Ini bisa memicu PHK massal jika tidak ditangani dengan serius,” ujar Dedy dalam pernyataannya, Minggu (6/4).

Dedy menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan pasar ekspor utama bagi produk mebel Indonesia. Dari total nilai ekspor mebel nasional yang mencapai US$ 2,2 miliar, sekitar 60% ditujukan untuk pasar AS. Oleh karena itu, kebijakan tarif tersebut diyakini akan membawa dampak signifikan terhadap stabilitas industri.

Meski memahami bahwa kebijakan itu merupakan bagian dari strategi proteksi industri dalam negeri Amerika Serikat, ASMINDO mengimbau agar pemerintah Indonesia tetap bersikap tenang namun sigap.

“Perlu ada langkah antisipatif yang segera disiapkan para pemangku kepentingan. Kita tidak bisa hanya menunggu dan berharap, tetapi harus proaktif dalam menyusun strategi,” tegas Dedy.

Ia mendorong pemerintah untuk meninjau kembali struktur tarif terhadap barang impor dari AS, tentu dengan pendekatan yang tetap menjaga keharmonisan hubungan dagang antara kedua negara.

Dedy juga menekankan pentingnya membuka akses pasar non-tradisional sebagai alternatif tujuan ekspor. “Upaya diversifikasi pasar ekspor yang sudah dimulai beberapa tahun terakhir harus terus digencarkan agar kita tidak terlalu bergantung pada satu pasar saja,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa potensi pasar dalam negeri juga harus dimaksimalkan. Peningkatan konsumsi produk lokal, khususnya melalui belanja pemerintah, akan menjadi pendorong penting dalam menjaga laju pertumbuhan industri mebel nasional.

Penerapan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang konsisten, menurut Dedy, telah menjadi langkah konkret dalam memperkuat daya saing industri lokal. Ia juga menyoroti perlunya pengawasan terhadap masuknya produk impor murah dan ilegal yang dapat melemahkan pelaku usaha dalam negeri.

Untuk mendukung ketahanan industri, ASMINDO mendorong pemerintah memberikan insentif bagi sektor padat karya dan menyederhanakan proses perizinan investasi. Hal ini diyakini akan menarik lebih banyak investor masuk ke sektor industri dengan nilai tambah tinggi dan basis teknologi kuat.

Sebagai penutup, Dedy menegaskan kesiapan ASMINDO untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan asosiasi lainnya dalam menyusun langkah nyata membangun ekosistem industri mebel dan kerajinan yang lebih kuat dan berdaya tahan.

“Kami terbuka untuk berdialog dan bersama-sama mencari solusi terbaik demi keberlangsungan industri ini. Kolaborasi menjadi kunci agar kita bisa keluar dari tekanan global dengan lebih tangguh,” pungkasnya.

(kkz/kkz)

Terkini